web stats

Tuesday, February 17, 2015

Filled Under:

PERTEMUAN VI

PERTEMUAN VI

شُرُوْطُ قَبُوْلِ الشَّهَادَتَيْنِ Syarat-syarat Diterimanya Syahadatain
Kunci Sorga
Dalam atsar disebutkan
قِيلَ لِوَهْبِ بْنِ مُنَبِّهٍ أَلَيْسَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ مِفْتَاحُ الْجَنَّةِ قَالَ بَلَى
Ditanyakan kepada Wahab bin Munabbih, "Bukankah laa ilaaha illallah itu merupakan kunci surga?" Wahab menjawab, "Benar,”
SYARAT PERTAMA:
ILMU YANG MENIADAKAN KEBODOHAN(اَلْعِلْمُ اَلْمُنَافِيْ لِلْجَهْلِ)
Seseorang yang bersyahadat harus memiliki ilmu tentang syahadat yang diucapkannya
Orang yang bersyahadat tanpa mengetahui makna/kandungan syahadat tidak diterima
3:18 bahwa yang diakui syahadat (persaksian)-nya hanya tiga pihak: Allah, malaikat, dan orang-orang yang berilmu
شَهِدَ اللَّهُ أَنَّهُ لا إِلَهَ إِلا هُوَ وَالْمَلائِكَةُ وَأُولُو الْعِلْمِ قَائِمًا بِالْقِسْطِ لا إِلَهَ إِلا هُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ
Mati dengan Ilmu لاإله إلا الله
مَنْ مَاتَ وَهُوَ يَعْلَمُ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ دَخَلَ الْجَنَّةَ
Barangsiapa mati sedangkan dia mengetahui (memiliki ilmu)
لاإله إلا الله
masuk sorga (HR. Muslim)
KEYAKINAN YANG MENGHILANGKAN KERAGUAN
Orang yang bersyahadat harus menghasilkan keyakinan pada dirinya, tanpa keraguan sedikit pun, tentang keesaan Allah dan kerasulan Nabi SAW
49:15 yang disebut mu’min yang sempurna HANYALAH (إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ) orang-orang yang
Beriman kepada Allah dan rasulNya
Kemudian mereka TIDAK RAGU-RAGU (ثُمَّ لَمْ يَرْتَابُوا)
Berproses
Kata yang digunakan dalam ayat tersebut adalah “tsumma” (kemudian) à adanya proses
Makin berlalunya waktu, semakin yakin
Tidak bercampur keraguan dan kebimbangan
Keyakinan yang menenteramkan, kokoh, sempurna dan tidak menimbulkan kegelisahan
Dalam menjalani hidup, seorang yang beriman memang akan dihantam dengan berbagai kesulitan yang dapat menggoyahkan dan peristiwa yang menggundahkannya
Bukti: JIHAD
Jika kalbu telah merasakan lezatnya iman dan kegandrungan kepadanya serta telah mengakar, niscaya akan mendorong untuk mewujudkan kebenaran itu di luar kalbu
Kalau realitas di luar kalbu bertentangan dengan iman, maka ia akan berjihad dengan harta dan jiwanya
JIHAD ada dua komponen
Sungguh-sungguh (جِدِّيَّةٌ)
Terus-menerus (إِسْتِمَرَارِيَّةٌ)
KEIKHLASAN YANG MENGHILANGKAN KEMUSYRIKAN
Orang yang telah bersyahadat harus menjadi orang yang mukhlis
Murni, bersih, suci, dari berbagai kotoran (kemusyrikan), baik kemusyrikan yang kecil maupun yang besar
Sudah dijelaskan di materi “al-wala wal-bara” tentang kandungan laa ilaaha illallah, yang mengharuskan menghabisi ilah selain Allah, sampai ke akar-akarnya
KETULUSAN (KEBENARAN) YANG MENGHILANGKAN KEBOHONGAN
Ketulusan atau kejujuran atau kebenaran dan tidaknya syahadat seseorang itu dengan ujian
29:2-3 anggapan yang salah bahwa akan dibiarkan begitu saja mengatakan beriman tanpa diuji
2:214 anggapan yang salah bahwa masuk surga itu mudah tanpa harus melewati berbagai ujian
Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan)
Kegoncangan itu sampai Rasul dan pengikutnya meradang kepada Allah: Bila datangnya pertolongan?

CINTA YANG MENGHILANGKAN KEMARAHAN DAN KEBENCIAN
Orang yang bersyahadat harus menghasilkan cinta yang sempurna kepada Allah, Rasul dan jihad
2:165 وَالَّذِينَ آمَنُوا أَشَدُّ حُبًّا لِلَّهِ  (Adapun orang-orang yang beriman sangat cinta kepada Allah)
9:24 cinta kepada Allah, Rasul dan jihad di atas segalanya (bapak, anak, istri, kaum keluarga, harta, perniagaan, dan rumah tempat tinggal)
PELAKSANAAN YANG MENGHILANGKANKEPASIFAN, MENINGGALKAN DAN KETIADAAN AMAL

Orang yang telah bersyahadat harus melaksanakan semua ketentuan Islam
24:51 diseru langsung ok
2:124 Nabi Ibrahim menunaikan SEMUA perintah Allah dengan SEMPURNA
2:131 أَسْلِمْ à أَسْلَمْتُ لِرَبِّ الْعَالَمِينَ


اَلرِّضَى Kerelaan
RIDHO (اَلرِّضَى)
Kalau cintanya sangat tinggi kepada Allah (2:165), tentu dia akan RIDHO kepada Allah
Apapun yang dikehendaki oleh yang dicintai tentu ia ridho menerimanya (76:30)
وَمَا تَشَاءُونَ إِلَّا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ
Dan kamu tidak mampu (menempuh jalan itu), kecuali bila dikehendaki Allah.
Tiada seorang pun yang mampu memberi hidayah kepada dirinya dan tiada pula mampu memasukkan iman kedalam hatinya serta tiada yang mampu mendatangkan manfaat bagi dirinya kecuali bila dikehendaki Allah à kita harus menyesuaikan dengan kehendak Allah dan MENERIMAN APA YANG DIKEHENDAKI ALLAH = RIDHO
YANG DIKEHENDAKI ALLAH TERHADAP DIRI KITA(مَا أَرَادَهُ اللهُ بِنَا)
Misalnya Allah menghendaki diri kita besok mendapatkan ini dan itu à kita harus ridho menerimanya
Sesungguhnya, apa yang dikehendaki Allah terhadap diri kita sudah ditetapkan sejak umur kita 40 hari di dalam kandungan
ثُمَّ يُرْسَلُ إِلَيْهِ الْمَلَكُ فَيَنْفُخُ فِيهِ الرُّوحَ وَيُؤْمَرُ بِأَرْبَعِ كَلِمَاتٍ رِزْقِهِ وَأَجَلِهِ وَعَمَلِهِ وَشَقِيٌّ أَمْ سَعِيدٌ
Kemudian Allah mengutus malaikat, lalu meniupkan ruh dan ditetapkan empat ketetapan: rizkinya, ajalnya, amalnya, dan sengsera atau bahagia (HR. Ahmad)
Realisasi ketetapan tentu mudah bagi Allah

تَحْقِيْقُ مَعْنَى الشَّهَادَتَيْنِ Realisasi Makna Syahadatain (1)
Realisasi Maknasy Syahadatain
Syahadat yang kita ucapkan bukan sekedar pernyataan, tapi sekaligus sumpah dan janji kita kepada Allah SWT
Syahadat adalah proklamasi keislaman kita
Syahadat adalah sumpah setia kita
Syahadat adalah janji setia kita
Ia perlu realisasi sebagai konsekuensi dari proklamasi, sumpah dan janji tersebut
Sehingga ia bukan pernyataan kosong, sumpah palsu dan janji-janji belaka
Hubungan Mu’min dan Allah
Setelah seseorang bersyahadat maka hubungan dirinya dengan Allah SWT menjadi kuat
Dirinya terikat dengan hubungan ini dengan ikatan yang sangat kuat yang tidak akan terputus (2:256)
فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَى لَا انْفِصَامَ لَهَا
maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus
Ada tiga hubungan yang harus dijaga:
Hubungan cinta
Hubungan perniagaan
Hubungan kerja
Harganya: SORGA dan RIDHO
Harga yang dibayarkan oleh Allah SWT adalah sorga dan ridhoNya
Ketika bai’atul ‘aqabah Abdullah bin Rawahah berkata kepada Rasul SAW, “Berilah persyaratan bagi Tuhanmu dan bagi dirimu sesuka hatimu.” Maka Rasulullah bersabda, “Aku memberikan syarat bagi Tuhanku, hendaklah kalian menyembahNya dan janganlah kalian mempersekutukan Dia dengan sesuatu pun. Dan aku memberikan syarat bagi diriku, hendaklah kalian membelaku sebagaimana kalian membela diri dan harta benda kalian sendiri.” Para sahabat bertanya, “Apakah yang kami peroleh jika kami mengerjakan hal tersebut?” Beliau menjawab, “Sorga.” Mereka menjawab, “Jual beli yang menguntungkan, kami tidak akan mundur dan tidak akan mengundurkan diri.” Lalu turunlah 9:111
Mengingkari yang Menunda-nunda Keberangkatan
Pada Perang Mu’tah Rasulullah SAW telah menetapkan bahwa komandan perang adalah Zaid bin Haritsah; jika ia gugur diganti oleh Ja’far bin Abi Thalib; jika ia gugur diganti oleh Abdullah bin Rawahah
Sebelum berangkat perang Ibnu Rawahah pergi shalat Jum’at bersama Rasulullah SAW, beliau bertanya, “Mengapa engkau belum berangkat?”
Ibnu Rawahah menjawab, “Karena aku ingin shalat Jum’at bersama engkau.”
Beliau bersabda, “Pergi di jalan kebaikan (jihad) pada pagi atau sore hari lebih baik daripada dunia dan seisinya.”
Jihad Total
Medan jihad sangat banyak, meskipun yang tertinggi adalah jihad di peperangan (jihad qital)
Jihad = sungguh-sungguh à mengeluarkan segala upaya, pikiran, tenaga, harta, dan waktu
Bidang-bidang jihad
Jihad nafs
Jihad tarbawi: jihad melalui pendidikan dan pengajaran
Jihad siyasi: jihad melalui politik untuk menegakkan keadilan dan kesejahteraan rakyat
Jihad qital atau jihadul-yad (tangan): jihad dengan pedang dan senjata
Jihadun-Nafs
Jihadun-nafs memiliki kedudukan yang tinggi di masa sekarang ini
Jihad ini memiliki tingkatan:
Berjihad untuk mempelajari petunjuk (Islam)
Berjihad untuk mengamalkan apa yang sudah dipelajari
Berjihad untuk berdakwah kepada petunjuk
Berjihad untuk sabar atas segala kesulitan dakwah

Semboyan Kita
Apabila kita sudah memahami konsep jihad ini dan melakukannya, maka berarti sudah memahami semboyan kita:
اَلْجِهَادُ سَبِيْلُنَا
JIHAD JALAN KITA
Landasan Jihad
Landasan dalam kita berjihad adalah SYAHADAT (اَلشَّهَادَةُ)
Karena tidak ada artinya jihad yang tidak ikhlas
Ingat hadits yang menyebutkan 3 orang yang pertama dihisab: mujahid, dermawan, dan qari’ (ahli Qur’an) à ketiganya masuk neraka karena jihad untuk disebut pahlawan, berderma supaya disebut dermawan, dan mengajarkan ilmu dan Qur’an agar disebut qari’-’alim
Ketika Rasulullah ditanya apa yang disebut fi sabilillah, maka beliau menolak jihad karena ashabiyah (fanatisme) atau karena ingin disebut pemberani, lalu bersabda, “Siapa yang berperang untuk meninggikan kalimat Allah, itulah sabilillah.”
Sifat-sifat Mu’min
Mu’min yang telah melakukan perdagangan dengan Allah memiliki sifat-sifat yang disebutkan dalam 9:112
Sifat-sifat itu dalam bentuk isim fa’il yang menunjukkan bahwa sifat itu melekat dengan dzatnya (الصفة مُلْتَصِقَةُ بِالذَّاتِ)
Ada 7 sifat:
1. التَّائِبُونَ  (yang bertobat)
2. الْعَابِدُونَ  (yang beribadah)
3. الْحَامِدُونَ  (yang memuji Allah)
4. السَّائِحُونَ  (yang melawat)
5. الرَّاكِعُونَ السَّاجِدُونَ  (yang rukuk, yang sujud)
6. الْآَمِرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَالنَّاهُونَ عَنِ الْمُنْكَرِ  (yang menyuruh berbuat makruf dan mencegah berbuat mungkar)
7. وَالْحَافِظُونَ لِحُدُودِ اللَّهِ (yang memelihara hukum-hukum Allah)
التَّائِبُونَ  (Yang Bertobat)
Orang yang kembali kepada Allah sambil meminta ampunan atas dosa mereka
Tobat adalah
perasaan menyesal atas perbuatan masa lalu
bertawajjuh kepada Allah pada usia yang masih ada
menahan diri dari dosa, dan
beramal sholeh sebagai realisasi tobat
Maka tobat adalah penyucian, pembersihan, penyerahan diri kepada Allah dan kesholehan
الْآَمِرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَالنَّاهُونَ عَنِ الْمُنْكَرِ
(Yang Menyuruh Berbuat Makruf dan Mencegah Berbuat Mungkar)
Saat daulah Islam masih berdiri, maka amar ma’ruf nahi munkar dengan mencermati kesalahan dan penyimpangan dari manhaj Allah dan syari’atNya
Saat ini maka AMAR MA’RUF:
Usaha-usaha untuk mengkonsolidasikan, mengkoordinasikan, dan memobilisasi sumber-sumber positif konstruktif dalam Jamaah, umat, bangsa dan kemanusiaan untuk produksi kebajikan bagi kedamaian
NAHI MUNKAR
Bekerja secara sistematik mempersempit, memarjinalisasi dan meminimalisasi ruang gerak kemungkaran dan efeknya, sehingga perannya rendah
وَالْحَافِظُونَ لِحُدُودِ اللَّهِ
(Yang Memelihara Hukum-hukum Allah)
Dalam masa ketiadaan pemerintahan Islam, maka menjaga hukum-hukum Allah diarahkan kepada menjaga syari’at Allah selain hudud (hukum pidana)
Jadi kita arahkan kepada menjaga akidah, ibadah, dan muamalah
Kemudian tetap berupaya secara tarbawi maupun siyasi (politik) untuk mencapai kekuasaan sehingga
Memiliki landasan yang kokoh sebagai masyarakat Islam
Memiliki kemampuan untuk memimpin bangsa
Mampu mengelola penerapan syariatNya secara cerdas dan bijak

تَحْقِيْقُ مَعْنَى الشَّهَادَتَيْنِ Realisasi Makna Syahadatain (2)
Realisasi Syahadatain
Pada materi sebelumnya disampaikan bahwa realisasi syahadatain adalah adanya hubungan yang kuat antara seorang mu’min dan Allah SWT
Hubungan itu meliputi:
Hubungan cinta
Hubungan perniagaan
Hubungan kerja
Dalam materi ini akan dibahas realisasi syahadatain dari sisi pribadi yang mengikrarkan syahadat à kondisi pribadi yang dapat merealisasikan syahadatain
Syahadat adalah Proklamasi (اَلإِقْرَارُ)
Syahadat yang kita ucapkan adalah proklamasi akan jatidiri kita sebagai muslim dan mu’min
Proklamasi ini akan mudah disampaikan di tengah masyarakat yang menghormati aturan-aturan Islam
Tapi di tengah masyarakat yang jauh dari Islam menjadi lebih sulit, karena akan terasa aneh
Di tengah negara non-muslim akan lebih sulit lagi, karena bisa berakibat terbatasinya gerak langkah dalam kehidupannya
Pernyataan: اشْهَدُوا بِأَنَّا مُسْلِمُونَ saksikanlah bahwa sesungguhnya kami muslim! (3:64) menjadi tantangan berat bagi yang menyatakannya
Tiga Tuntutan Tauhid
Jika seorang mentauhidkan Allah, maka sudah seharusnya memenuhi tuntutannya
Sasaran hidupnya (قَصْدُ الْحَيَاةِ ) adalah Allah  6:162
Pedoman hidupnya (مِنْهَاجُ الْحَيَاةِ ) adalah Islam 6:153
Teladan hidupnya (اَلْقُدْوَةُ فِي الْحَيَاةِ) adalah Rasulullah SAW 33:21
Apakah diri kita sudah memenuhi tuntutan ini?
Perhatikanlah kisah Abud-Dahdah ketika turun surat Al-hadid ayat 11: “Siapakah yang mau meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, maka Allah akan melipat-gandakan (balasan) pinjaman itu untuknya, dan dia akan memperoleh pahala yang banyak”
Mengharap Rahmat Allah (رَجَاءُ رَحْمَةِ اللهِ)
Hati yang bersih (sehat) adalah hati yang selalu mengharapkan rahmat Allah SWT (رَجَاءُ رَحْمَةِ اللهِ)
Ia menyadari bahwa dirinya penuh dengan kelemahan dan keterbatasan, sedangkan Allah memiliki segalanya dan rahmatNya sangat luas, maka ia selalu berharap agar mendapatkan rahmat Allah
7:156 وَرَحْمَتِي وَسِعَتْ كُلَّ شَيْءٍ  à ayat yang besar peliputan dan keumuman maknanya
Sama dengan doa malaikat penyangga ‘arsy (40:7): رَبَّنَا وَسِعْتَ كُلَّ شَيْءٍ رَحْمَةً وَعِلْمًا
Takut Hukuman Allah (خَوْفُ عِقَابِ اللهِ)
Hati yang bersih adalah hati yang takut kepada hukuman Allah SWT yang sangat pedih (13:21, 17:57, 76:7)
17:57 terkumpul antara raja’ dan khauf: وَيَرْجُونَ رَحْمَتَهُ وَيَخَافُونَ عَذَابَهُ
24:37 kriteria Rijalur Rabbani
لَا تُلْهِيهِمْ تِجَارَةٌ وَلَا بَيْعٌ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ (tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingat Allah)
وَإِقَامِ الصَّلَاةِ (mendirikan sembahyang)
وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ (membayarkan zakat)
يَخَافُونَ يَوْمًا تَتَقَلَّبُ فِيهِ الْقُلُوبُ وَالْأَبْصَارُ (Mereka takut kepada suatu hari yang (di hari itu) hati dan penglihatan menjadi guncang)
25:65-66 ciri Ibadurrahman: berdoa minta dijauhkan dari adzab
Mencintai Allah (مَحَبَّـةُ اللهِ)
Hati yang bersih adalah hati yang mencintai Allah di atas segala-galanya (2:165)
Yang demikian itu karena mereka
Cinta kepada Allah
Ma’rifah kepadaNya
MengagungkanNya
MengesakanNya
Sama sekali tidak menyekutukanNya dengan sesuatu pun, melainkan hanya menyembahNya semata
Bertawakkal kepadaNya
Kembali kepadaNya dalam segala urusan
AKAL YANG CERDAS (عَقْلٌ ذَكِيٌّ)
Seorang mu’min yang telah bertauhid pasti memiliki pikiran yang cerdas
Perhatikanlah perkembangan ilmu pengetahuan sebelum Islam
Ilmu pengetahuan hanya sebatas teori-teori dan filsafat-filsafat tanpa pembuktian ilmiah
Di tangan umat Islam, iptek kemudian berkembang dengan pesat dan para ulama-ilmuwan menjadi pelopor iptek
Kenapa bisa demikian?
Tafakkur Alam Semesta (اَلتَّفَكُّرُ فِي الْكَوْنِ)
Tafakkur alam semesta juga diperintahkan oleh Al-Qur’an
Gabungan antara tadabbur al-Qur’an dan tafakkur alam semesta menciptakan kekuatan yang dahsyat
Umat Islam selama berabad-abad (13 abad) menjadi GURU ALAM SEMESTA (أُسْتَاذِيَّةُ الْعَالَمِ)
Saat itu tidak ada dualisme ilmu: umum dan agama, atau dualisme gelar: ulama dan ilmuwan à keduanya menyatu secara menciptakan harmoni dalam masyarakat Islam
Sekarang?
Ilmuwan berarti bodoh agama atau ulama berarti bodoh iptek, manajemen, dan kejiwaan manusia!

اَلصِّبْغَةُ وَالاِنْقِلاَبُ Pencetakan dan Perubahan

Cinta (اَلْمَحَبَّةُ)
Syahadat adalah komitmen dalam hati untuk loyal (setia) kepada Allah dan RasulNya
Kesetiaan itu tidak akan wujud kecuali dengan adanya CINTA
Semakin besar cintanya semakin kuat kesetiaannya
Allah SWT dan RasulNya pun menuntut orang yang beriman untuk mencintai Allah dan RasulNya lebih dari yang lainnya à lebih dari cintanya kepada
Bapak-bapaknya, saudara-saudara, istri-istri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai (9:24)
Diri sendiri: Umar berkata, وَاللَّهِ لَأَنْتَ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ نَفْسِي (demi Allah, engkau benar-benar lebih aku cintai daripada diriku, HR. Bukhari)
Iman (اَلإِيْمَانُ)
Kalau sudah ridho kepada Allah, Islam dan Rasul, maka berarti kita telah menjadi MU’MIN TULEN
Keadaannya bisa timbal-balik: mu’min sejati tentu akan ridho terhadap mereka semua
Iman yang disertai ridho inilah yang akan menghasilkan manisnya iman:
ذَاقَ طَعْمَ الإِيْمَانِ مَنْ رَضِيَ بِاللَّهِ رَبًّا وَبِالإِسْلاَمِ دِينًا وَبِمُحَمَّدٍ رَسُولاً
“Telah merasakan lezatnya iman seseorang yang ridha Allah sebagai Rabbnya, Islam sebagai dinnya dan Muhammad sebagai  Rasulnya.” (HR. Muslim)
Perubahan Keyakinan (اَلاِعْتِقَادِيُّ)
Keyakinan pada tauhidullah tanpa syirik
Keyakinan yang kokoh seperti pohon yang baik (14:24)
Keyakinan yang mendalam seperti akar yang menghunjam ke bumi
Keyakinan yang membuat tenang dan tenteram jiwanya
Keyakinan tanpa disertai keraguan dan kebimbangan sedikit pun
Itulah yang membuat
Bilal bertahan dalam siksaan Umayyah
Sumayyah dan Yasir tetap pada keyakinannya sampai gugur di jalan Allah
Suhail ar-Rumi rela meninggalkan harta bendanya yang telah dikumpulkan demi hijrah ke Madinah
Perubahan Keyakinan (اَلاِعْتِقَادِيُّ)
Keyakinan pada tauhidullah tanpa syirik
Keyakinan yang kokoh seperti pohon yang baik (14:24)
Keyakinan yang mendalam seperti akar yang menghunjam ke bumi
Keyakinan yang membuat tenang dan tenteram jiwanya
Keyakinan tanpa disertai keraguan dan kebimbangan sedikit pun
Itulah yang membuat
Bilal bertahan dalam siksaan Umayyah
Sumayyah dan Yasir tetap pada keyakinannya sampai gugur di jalan Allah
Suhail ar-Rumi rela meninggalkan harta bendanya yang telah dikumpulkan demi hijrah ke Madinah
Perubahan Pemikiran (اَلْفِكْرِيُّ)
Pemikiran jahiliyah diluruskan menjadi pemikiran Islam
Pemahaman tentang iman (49:14-15)
Hakikat kebajikan dan ketakwaan (2:177)
Ujian keimanan menuju sorga (29:1-3, 3:142, 2:214)
Hakikat mati syahid (2:154, 3:169)
Asas perubahan: perubahan ruhiyah, bukan materi (13:11)
Kebahagiaan dan kerugian (3:185, 23:1-2, 87:14-15, 39:15)
Pandangan terhadap wanita: wanita bukan setan (30:21)
Gelap dan terang: bukan karena dua tuhan (6:1, 78:10-11, 28:72)
Diterimanya amal (hadits niat dll)
Hakikat kaya, miskin, kekuatan, standar keutamaan, kerusakan standar dalam banyak hadits
Perubahan Perasaan (اَلشُّعُوْرِيُّ)
Perasaannya pun sudah tercelup dengan celupan Islam
Mendukung dan memusuhi
Marah dan ridho
Cinta atau benci
Rindu, kasih sayang, harap dan cemas
Islam menentang perasaan
Fanatisme (ashabiyah)
Dendam
Perasaan marah kepada kemungkaran tanpa berbuat apapun menjadi tolak ukur terakhir keberadaan iman pada diri seseorang à menjadi penghalang dari adzab (11:117)
Perubahan Perilaku (اَلسُّلُوْكِيُّ)
Perilaku = tindak tanduk
Sistem perilaku dalam Islam dilandasi oleh akidah yang bersih
Jauh dari perilaku setan: tukang tipu
Jauh dari perilaku binatang:
Binatang buas: pemarah seperti anjing (7:176)
Binatang ternak yang memperturutkan syahwatnya (7:179, 47:12)
Seorang laki-laki tidak boleh meniru-niru perilaku wanita, dan sebaliknya (HR. Ahmad)
Tidak boleh menyerupai perilaku orang kafir (مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ) HR. Abu Dawud
Pribadi Muslim (اَلشَّخْصِيَّةُ اَلاِسْلاَمِيَّةُ)
Jika sudah terjadi perubahan pada
Keyakinannya menjadi keyakinan tauhid
Pemikirannya
Perasaannya
Perilakunya
Maka berarti telah terbentuk kepribadian Islam (اَلشَّخْصِيَّةُ اَلاِسْلاَمِيَّةُ)
Jadi untuk membentuk pribadi Muslim harus dimulai dari syahadatain
Nilai (اَلْقَيِّمَةُ)
Pribadi Muslim inilah pribadi yang bernilai, bermutu di mata Allah dan RasulNya serta umat Islam semuanya
Pribadi yang berkualitas inilah yang akan membawa Islam pada kejayaannya (24:55)
Menjadi khalifah (penguasa) di muka bumi dengan membawa rahmat bagi semesta alam
Tamkin (kekokohan) dalam agama di atas agama-agama lainnya
Menghadirkan rasa aman sehingga perempuan bisa bepergian tanpa mahram tanpa ada gangguan apapun
Semua manusia beribadah kepada Allah tanpa syirik
Kenyataannya, musuh-musuh Islam juga memiliki tentara-tentara yang berkualitas juga à kalau kita tidak berkualitas, kalah!

Jika sudah terjadi perubahan pada
Keyakinannya menjadi keyakinan tauhid
Pemikirannya
Perasaannya
Perilakunya
Maka berarti telah terbentuk kepribadian Islam (اَلشَّخْصِيَّةُ اَلاِسْلاَمِيَّةُ)
Jadi untuk membentuk pribadi Muslim harus dimulai dari syahadatain

0 comments:

Post a Comment

erny twin. Powered by Blogger.

About Me

My photo
BULUNGAN, KAL-TIM, Indonesia

Formulir Kontak

Name

Email *

Message *