web stats

Tuesday, February 17, 2015

Filled Under:

PERTEMUAN V

PERTEMUAN V

مَعْنَى اْلإِلَهِ   Kandungan Kata “Ilah”

Kata ILAH

Terdiri atas tiga hurup: alif, laam, dan haa
Kalau merujuk ke kamus besar bahasa Arab maka ALIHA itu memiliki beberapa arti
Tenang/tentram (سَكَنَ إِلَيْهِ)
Memohon perlindungan (اِسْتَجَارَ بِهِ)
Yang dituju karena rindunya (اِشْتَاقَ إِلَيْهِ)
Paling dicintai/dirindukan (وُلِعَ بِهِ)
Mengabdi (عَبَدَهُ)

Tenang/Tentram (سَكَنَ إِلَيْهِ)
Berarti لاإله إلاالله maknanya “tidak ada yang dapat memberikan ketenangan dan ketentraman kecuali Allah”
Seorang Muslim harus yakin bahwa tidak ada yang dapat menenangkan dan menentramkan kecuali menjalin hubungan dengan Allah
13:28 أَلا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ (Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram)
10:7 ridho dan merasa tenang dengan kehidupan dunia (وَرَضُوا بِالْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَاطْمَأَنُّوا بِهَا)
Memohon Perlindungan (اِسْتَجَارَ بِهِ)
Berarti لاإله إلاالله maknanya “tidak ada yang dapat memberikan perlindungan kecuali Allah”
72:6 minta perlindungan kepada jin, didapati adalah bencana dan dosa
Hadits: meski semua makhluk melindungi seseorang tapi Allah hendak menimpakan bencana, maka akan tertimpa bencana. Begitu pula sebaliknya
Mengabdi (عَبَدَهُ)
Ini arti ilah yang merangkum semua arti ilah di atas
Karena mengabdi berarti
Merasa tenang
Minta perlindungan
Menuju karena rindunya
Mencintai
Berarti لاإله إلاالله maknanya “tidak ada yang berhak diabdi kecuali Allah”
Ilah itu X
Dari keterangan arti ilah secara bahasa, maka ilah itu bisa apa saja à ilah itu X
X jadi ilah kalau
Diharapkan (اَلْمَرْغُوْبُ) karunia dan pahalanya atas segala jerih payahnya
Ditakuti (اَلْمَرْهُوْبُ) siksanya (intimidasi, teror, ancaman); X biasanya punya fasilitas dunia
Diikuti (اَلْمَتْبُوْعُ) perintah dan larangannya yang bertentangan dengan Allah (42:21 à X buat syariat lalu diikuti, X = ilah)
Dicintai (اَلْمَحْبُوْبُ) sama atau lebih tinggi dari pada cintanya kepada Allah
Kalau sudah demikian maka X jadi yang disembah/diabdi (اَلْمَعْبُوْدُ)
Ilah Satu-satunya Allah SWT]
Yang kita berikan cinta yang sempurna, penghinaan diri yang sempurna, ketundukan yang sempurna hanyalah Allah
Yang memiliki otoritas, ketaatan, dan kedaulatan hanyalah Allah saja
20:14 Aku Allah maka sembahlah Aku (إِنَّنِي أَنَا اللَّهُ لا إِلَهَ إِلا أَنَا فَاعْبُدْنِي )

اَلْوَلاَءُ وَالْبَرَاءُ Loyalitas dan Pemutusan Hubungan
Susunan Unik لاإله إلاالله
Kalimat لاإله إلاالله memiliki susunan yang unik
لا ……. إلا ……..
Jadi yang dikehendaki adalah “peniadaan semuanya (ilah) dan pengokohan satu saja (Allah)
Tidak kenal kompromi
Harus dihilangkan sebersih-bersihnya
Menanam Tanaman
NO Awal Akhir Hasil
1 Babat Tanam Subur/baik
2 Babat Tidak tanam Tanaman asal
3 Tidak babat Tanam Kerdil (mati)
4 Tidak babat Tidak tanam Liar

No. 1
Itulah gambaran kalimat لاإله إلاالله
Hasilnya adalah keimanan yang kokoh
No. 2
لاإله tanpa إلاالله
Menolak kebatilan tanpa mau menerima kebenaran
Hasilnya kebatilan lagi
Mungkin hanya rupanya yang berbeda, tapi tetap kebatilan (kebatilan baru)
Contoh: menolak kapitalisme tapi tidak mau menerima Islam, hasilnya sosialisme/komunisme
No. 3
إلاالله tanpa لاإله
Mengakui kebenaran tapi tidak mau menolak kebatilan
Hasilnya: mencampur-adukkan kebenaran dengan kebatilan (2:42)
وَلا تَلْبِسُوا الْحَقَّ بِالْبَاطِلِ وَتَكْتُمُوا الْحَقَّ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ
No. 4
Semua dibabat dan tidak mengakui kebenaran, berarti ATEIS
Ateis adalah paham yang buruk karena tidak mengakui adanya tuhan


Kalimat yang Buruk (14:26)
Selain لاإله إلاالله  adalah kalimat yang buruk (كَلِمَةٍ خَبِيثَةٍ )
Mereka seperti pohon yang buruk (كَشَجَرَةٍ خَبِيثَةٍ)
Cirinya tidak perlu banyak, cukup satu saja: akarnya tercerabut dari bumi (اجْتُثَّتْ مِنْ فَوْقِ الأرْضِ)
Tidak akan kokoh (مَا لَهَا مِنْ قَرَارٍ)
Tidak akan menjulang ke langit dahannya
Tidak akan berbuah
Contoh: tauge


Berlepas Diri (اَلْبَرَاءُ)
لا fungsinya adalah meniadakan (اَلنَّفْيُ)
Atau makna yang sejenis: menghancurkan, meruntuhkan, membabat, menghilangkan
إله fungsinya sebagai yang ditiadakan (اَلْمَنْفِيُّ)
Pembahasannya sudah diuraikan di A03 Ma’nal Ilah
Keduanya mengandung maksud bahwa kita harus berlepas diri dari semua ilah atau disebut dengan اَلْبَرَاءُ
Maksud اَلْبَرَاءُ
Ada empat makna yang dimaksud oleh kata al-bara’
Mengingkari atau menolak (اَلْكُفْرُ)
Memusuhi (اَلْعَدَاوَةُ)
Membenci (اَلْبُغْضُ)
Memutuskan atau mengisolir (اَلْمُفَاصَلَةُ)
Jadi memutuskan hubungan dengan semua ilah disertai pengingkaran, permusuhan dan kebencian
Putus hubungan tanpa menolak, memusuhi dan membencinya à masih mungkin balik lagi
Setia (اَلْوَلاَءُ)
إِلاَّ fungsi sebagai pengecualian (الإِسْتِثْنَاءُ) tapi karena ada لا (meniadakan) maka fungsinya sebagai اَلإِثْبَاتُ (mengokohkan)
اَلله adalah Dzat yang dikokohkan (اَلْمُثْبَتُ)
Keduanya mengandungkan maksud agar kita memberikan kesetiaan kita hanya kepada Allah semata (اَلْوَلاَءُ)
Maksud اَلْوَلاَءُ
Seperti al-Bara, maka al-Wala juga mengandung empat unsur
Mematuhi (اَلطَّاعَةُ)
Mencintai (اَلْمَحَبَّةُ)
Menolong (اَلنَّصْرةُ)
Dekat (اَلْقُرْبُ)
Setia dan loyal kepada Allah disertai ketaatan, cinta, pertolongan dan kedekatan kepadaNya
Menghancurkan (اَلْهَدْمُ)
Kalau kita memusuhi dan membencinya, maka pasti kita tidak ingin lagi ia wujud
Maka akan menghancurkannya, dengan penghancuran total, sampai ke akar-akarnya!
Kita lucuti hak-hak Allah dari perampas-perampasnya, yakni para tiran
Membina (اَلْبِنَاءُ)
Kalau kita mencintaiNya, mentaatiNya, menolongNya dan selalu ingin dekat denganNya, maka tentu kita akan terus membina kesucianNya
Siapa pun yang hendak menggangguNya, maka kita siap maju pantang mundur membelaNya
Kita siap menjadi tentaraNya
IKHLAS
Ikhlas tercapai manakala semua ilah lain selain Allah dihancurkan, hanya Allah saja yang dikokohkan
Seorang yang baik لاإله إلاالله –nya, maka pasti akan menjadi MUKHLIS
Ini juga berarti hanya orang ikhlas sajalah yang bisa membangun, sementara yang lainnya pasti melakukan kerusakan (2:11-12)
Syarat Orang Beriman Jadi Wali
Orang-orang beriman yang bisa berikan kepadanya wala kita memiliki syarat-syarat:
Mendirikan shalat
Menunaikan zakat
Tunduk (kepada Allah)
Kalau tidak memenuhi persyaratan tersebut, tidak berhak mendapatkan wala (apalagi kalau dia itu kafir, tentu jelas tidak boleh)

Minhaj Wala dan Bara (مِنْهَاجُ الْوَلاَءِ وَالْبَرَاءِ)
Allah SWT sebagai sumber wala (مَصْدَرًا)
Rasul SAW sebagai contoh tatacara pelaksanaan wala (كَيْفِيَّةً)
Orang-orang beriman (yang memenuhi syarat) sebagai pelaksana wala (تَنْفِيْذًا)
Tatacara Penghancuran dan Pengokohan
(كَيْفِيَّةُ الْهَدْمِ وَالْبِنَاءِ)
Dari minhaj wala dan bara itu kita rumuskan tatacara pelaksanaan penghancuran dan pengokohan
Sirah Nabawiyah memberikan penjelasan yang rinci tentang masalah ini
Keharusan Ittiba’ (Ikut Sunnah)
Konsekuensi dari syahadat kedua adalah kewajiban akan ittiba’ kepada Rasul SAW
Fudhail bin ‘Iyadh menafsirkan ahsanu ‘amala (67:2) sebagai
Yang paling ikhlas (أخْلَصُهُ)
Yang paling sesuai dengan sunnah (أَصْوَبُهُ)
Inilah inti kalimat syahadatain

كَلِمَةُ اللهِ هِيَ الْعُلْيَا Kalimat Allah adalah Yang Tertinggi
Kalimat dalam Al-Qur’an
1. كَلِمَةَ الَّذِينَ كَفَرُوا (9:40)
2. كَلِمَةَ الْكُفْرِ (9:74)
3. كَلِمَةٍ خَبِيثَةٍ (14:26)
4. كَلِمَةً تَخْرُجُ مِنْ أَفْوَاهِهِمْ (18:5)
5. كَلِمَةٌ هُوَ قَائِلُهَا  (23:100)
6. كَلِمَةُ الْعَذَابِ (39:19,71)
7. كَلِمَةُ الْفَصْلِ  (42:21)
8. كَلِمَةٍ سَوَاءٍ (3:64)
9. كَلِمَةُ اللَّهِ (9:40)
10. كَلِمَةٌ سَبَقَتْ مِنْ رَبِّكَ (10:19, 11:110, 20:129, 41:45, 42:14)
11. كَلِمَةُ رَبِّكَ (11:119, 40:6)
12. كَلِمَةً طَيِّبَةً  (14:24)
13. كَلِمَةً بَاقِيَةً (43:28)
14. كَلِمَةَ التَّقْوَى (48:28)

Islam vs Non-Islam
Islam memiliki ungkapan, pernyataan, ketetapan, dan konsepsi yang berbeda dengan Non-Islam
Merujuk pada materi “Al-Wala wal-Bara”, maka Islam telah membersihkan dirinya sebersih-bersihnya dari segala kotoran Non-Islam

6 Konsep Utama
Ada 6 konsep utama yang diluruskan oleh Islam
1. Konsep ketuhanan
2. Konsep kerasulan
3. Konsep ibadah
4. Konsep alam semesta
5. Konsep manusia
6. Konsep kehidupan
6 konsep yang didasarkan pada pemikiran-pemikiran jahiliyah bisa melenceng jauh dari yang sebenarnya

Contoh: Konsep Hidup (45:24)
وَقَالُوا مَا هِيَ إِلَّا حَيَاتُنَا الدُّنْيَا نَمُوتُ وَنَحْيَا وَمَا يُهْلِكُنَا إِلَّا الدَّهْرُ وَمَا لَهُمْ بِذَلِكَ مِنْ عِلْمٍ إِنْ هُمْ إِلَّا يَظُنُّونَ
Dan mereka berkata: "Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia saja, kita mati dan kita hidup dan tidak ada yang membinasakan kita selain masa", dan mereka sekali-kali tidak mempunyai pengetahuan tentang itu, mereka tidak lain hanyalah menduga-duga saja.
Ada 4 kesalahan konsep yang didasarkan pemikiran jahiliyah
Hidup hanya di dunia
Hidup dan mati karena lifetime (waktu)
Mereka jahiliyah (tidak memiliki ilmu tentang kehidupan)
Dasarnya bukan ilmu tapi dugaan saja
Tidak Hantam Kromo
Dalam memandang hasil pemikiran di luar Islam kita tidak bersikap hantam kromo: pokoknya yang dari luar Islam berarti jahiliyah!
Karena hikmah adalah milik orang-orang beriman, di mana pun mereka menemuinya mereka lebih berhak mendapatkanya
Tapi ketika berkaitan dengan enam konsep utama tadi, kita harus lebih kritis

Kalimat Allah itu Tinggi
Kalimat Allah itulah yang tinggi, mulia (9:40)
Karena semua kemuliaan memang hanya milik Allah (10:65)
Sedangkan kalimat orang-orang kafir itu rendah, hina (9:40, 95:5 أَسْفَلَ سَافِلِينَ, 98:6 هُمْ شَرُّ الْبَرِيَّةِ)
Kalimat Tauhid vs Kalimat Syirik
Kalimat Allah yang tinggi dan mulia itu adalah kalimat tauhid: لاإله إلا الله
Sedangkan kalimat orang-orang kafir yang rendah itu adalah kalimat syirik
Kemusyrikan bagaikan jatuh dari langit lalu dicerai-beraikan oleh burung akhirnya jatuh di tempat yang jauh (22:31)
Kemusyrikan menyebabkan terpecahnya kepribadian, karena tidak fokus dalam pengabdian (39:29)
Kalimat Taqwa vs Kesombongan Jahiliyah
Kalimat tauhid itu adalah kalimat taqwa, yang menghantarkan seseorang kepada ketaqwaan (48:26)
Sedangkan kalimat syirik menghantarkan seseorang kepada kesombongan jahiliyah (48:26)
Suhail bin Amru ketika masih kafir dalam Perjanjian Hudhaibiyah menolak kalimat basmalah dan rasulullah (setelah Islam ia sahabat yang gigih membela Islam terutama saat menghadapi orang-orang murtad)
Sombong itu menolak kebenaran dan meremehkan orang lain (الكِبْرُ بَطْرُ الحَقِّ وَ غَمْطُ النَّاسِ)
Kalimat Baik vs Kalimat Buruk
Kalimat taqwa adalah kalimat yang baik (14:24)
Sedangkan kesombongan jahiliyah adalah kalimat yang buruk (14:26)
Tidak memberikan manfaat bagi manusia
Didengar pun tidak enak
Kokoh vs Tidak Kokoh
Kalimat yang baik pasti kokoh (14:24-25,27), karena
Akar menghunjam kedalam bumi
Cabang-cabangnya menjulang ke langit
Buahnya ada sepanjang tahun
Akan diucapkan kembali ketika di dalam kubur
Segala yang bermanfaat akan tetap di bumi (13:17)
Sedangkan kalimat yang buruk pasti tidak kokoh (14:26)
Akarnya tercerabut dari bumi
Tidak akan diucapkan ketika di dalam kubur
Akan hilang (13:17)
Kuat vs Lemah
Jadi syahadatain itu kuat
Pasti menang (58:21)
كَتَبَ اللَّهُ لأغْلِبَنَّ أَنَا وَرُسُلِي إِنَّ اللَّهَ قَوِيٌّ عَزِيزٌ
Sedangkan ideologi jahiliyah itu lemah
Pasti kalah dan hancur (17:81 زَهُوقًا)

مَرَاحِلُ التَّفَاعُلِ بِالشَّهَادَتَيْنِ Tahapan Berinteraksi Dengan Syahadatain

Cinta yang Dituntut (مُقْتَضَيَاتُ الحُبِّ)
Cinta yang sempurna (كَمَالُ الحُبِّ)
Mencintai apa yang dicintai Allah dan RasulNya (مَحَبَّةُ مَا أَحَبَّهُ اللهُ وَرَسُوْلُهُ)
Membenci apa yang dibenci Allah dan RasulNya (بُغْضُ مَا أَبْغَضُهُ اللهُ وَرَسُوْلُهُ)
Cinta yang sempurna (كَمَالُ الحُبِّ)
Allah dan RasulNya lebih dicintai dari pada yang lain (9:24 dan 2:165)
Tidak boleh SAMA CINTAnya (يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ اللَّهِ)
Tidak boleh LEBIH CINTA kepada yang lain (أَحَبَّ إِلَيْكُمْ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَجِهَادٍ فِي سَبِيلِهِ)
Harus SANGAT CINTAnya kepada Allah (أَشَدُّ حُبًّا لِلَّهِ)
لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَالِدِهِ وَوَلَدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ
“Tidak beriman seseorang dari kalian hingga menjadikan aku lebih dia cintai dari orang tuanya, anaknya, dan manusia semuanya.’ (HR Bukhari)
Mencintai Apa yang Dicintai Allah dan Rasulnya (مَحَبَّةُ مَا أَحَبَّهُ اللهُ وَرَسُوْلُهُ)
Adanya penyesuaian dalam kecintaan
Karena belum tentu yang kita cintai, pun dicintai Allah dan RasulNya, seperti perang (2:216)
Ulama berkata:
مَحَبَّةُ مَحْبُوْبِ الْمَحْبُوْبِ مِنْ تَمَامِ مَحَبَّةِ الْمَحْبُوْبِ
“Mencintai yang dicintai kekasih adalah tanda kesempurnaan cintainya kepada kekasih”
Membenci Apa Yang DibenciAllah dan Rasulnya (بُغْضُ مَا أَبْغَضُهُ اللهُ وَرَسُوْلُهُ)
Allah dan RasulNya membenci perbuatan (الْفَحْشَاءِ), kemungkaran (الْمُنْكَرِ) dan permusuhan (الْبَغْيِ) 16:90 à kita pun membencinya
Sungguh akan membuatnya tersinggung apabila kekasih membenci sesuatu tapi kita malah menyukainya
Tanda-tanda Cinta (آيَاتُ المَحَبَّةِ)
Mengikuti Rasul SAW (إِتِّبَاعُ الرَّسُوْلِ)
3:31 قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي
Berjihad di jalan Allah (الْجِهَادُ فِي سَبِيْلِ اللهِ)
49:15 bukti iman yang kokoh adalah jihad di jalan Allah
Berani menanggung resiko
Kata Ulama:
مَحَبَّةُ الْمَحْبُوْبِ لاَ تُنَالُ إِلا بِاحْتَمَالِ الْمَكْرُوْهَةِ
“Mencintai kekasih tidak akan tercapai kecauli dengan menanggung segala resiko”
Ridho (اَلرِّضَى)
Kalau cintanya sangat tinggi, tentu dia akan RIDHO
Apapun yang dikehendaki oleh yang dicintai tentu ia ridho menerimanya
Siapa yang harus kita ridhoi?
Allah sebagai Robb kita
Islam sebagai agama kita
Muhammad SAW sebagai Nabi dan Rasul kita

Hadits Ridho
ذَاقَ طَعْمَ الْإِيمَانِ مَنْ رَضِيَ بِاللَّهِ رَبًّا وَبِالْإِسْلَامِ دِينًا وَبِمُحَمَّدٍ رَسُولًا
“Akan merasakan kelezatan iman, orang yang ridho Allah sebagai Robb, Islam sebagai agama, dan Muhammad sebagai Rasul” (HR Muslim)
Cetakan Allah (صِبْغَةَ اللَّهِ)
Kalau sudah ridho kepada Allah, Islam, dan Rasul, maka ia akan ridho segala aktivitasnya, detak jantungnya, cara berpikirnya, DIWARNAI OLEH ALLAH, ISLAM DAN RASUL SAW
Ia ridho dicetak atau dicelup dengan cetakan/celupan Allah (صِبْغَةَ اللَّهِ)
2:138 celupan Allah adalah celupan yang terbaik
Celupan/Cetakan
Celupan harus meliputi luar dan dalam
Jangan seperti kapur tulis yang dicelup kedalam tinta: hanya luarnya saja yang kena celupan. Dalamnya masih belum
Cetakan harus membentuk sesuai dengan bentuk cetakannya
Adanya tuntutan untuk TOTALITAS ISLAM (2:208)
Yang dicelup/dicetak adalah hati, akal, dan jasad kita
HATI (قَلْبًا)
Hati yang telah dicelup dengan celupan Allah à hati yang yakin kepada Allah, Islam dan Rasul SAW (إِعْتِقَادًا)
Hati yang yakin akan memiliki dorongan yang sangat kuat untuk mengamalkan nilai-nilai Islam (نِيَّةً)
Tidak lapuk oleh hujan, tidak lekang oleh panas
Tidak terpengaruh oleh situasi dan kondisi
Bukan seperti kerupuk
3:146 tidak lemah karena bencana, tidak lesu, dan tidak menyerah kepada musuh
AKAL (عَقْلاً)
Akal yang tershibghah dengan shibghah Allah akan memiliki POLA PIKIR ISLAMI (فِكْرَةً)
Segala sesuatunya ditimbang dengan timbangan Islam
Mengetahui segala rencana jahat dari musuh-musuh Islam
Orang yang memiliki fikrah tidak akan terpengaruh dengan agresi pemikiran-pemikiran lain yang tidak Islami
Islam sebagai Minhaj
Orang yang telah memiliki fikrah: nilai-nilai Islam sudah menjadi darah dagingnya
Islam menjadi jalan hidupnya (مِنْهَاجًا)
Ia tidak akan menempuh jalan lain selain jalan Islam (6:153)
JASAD (جَسَدًا)
Jasad yang tershibghah dengan shibghah Allah akan AKTIF DENGAN AMAL ISLAMI (عَمَلاً)
Tidak pasif dan malas
Perumpamaan: seperti pohon yang terus-menerus berbuah tanpa kenal musim (14:24-25)
Keaktifan amalnya sampai ke tingkat MOBILE (تَنْفِيْذًا)
Ada perintah langsung jalan (24:51)
Satu atau Dua Bulan
Kadang-kadang seorang Al-Akh menghabiskan waktu satu atau dua bulan di tempat yang jauh dari keluarga, rumah, istri, dan anak-anaknya untuk berdakwah.
Di malam hari ia menjadi penceramah, sedangkan di siang hari menjadi perantau.
Sehari berada di bukit, hari berikutnya sudah di lembah.
Ia menyampaikan enam puluh kali ceramah dari wilayah di ujung timur sampai di ujung barat.
Acara-acara itu kadang-kadang mampu menghadirkan ribuan orang dari berbagai kalangan dan penjuru.
Namun, ia selalu berpesan agar hal itu tidak disiar-siarkan.
Syahadatain untuk Perubahan (التَّغْيِيْرُ)
Syahadatain yang benar mampu merubah seseorang: berubah menjadi pribadi baru
Berubah dari pribadi biasa menjadi PRIBADI YANG ISLAMI (الشَّخْصِيَّةُ الإِسْلاَمِيَّةُ)
Pribadi yang diwarnai dengan warna syahadatain
Pribadi yang punya sikap hidup tauhid
Perubahan dimulai dari syahadatain, bukan dengan yang lain


0 comments:

Post a Comment

erny twin. Powered by Blogger.

About Me

My photo
BULUNGAN, KAL-TIM, Indonesia

Formulir Kontak

Name

Email *

Message *